Home About Us

Endar Hadi Purwanto Melestarikan Tradisi Seduh Teh

E-mail Print PDF

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/05/04051035/Endar.Hadi.Purwanto.Melestarikan.Tradisi.Seduh.Teh

Harian Kompas,

Kamis, 5 November 2009 | 04:05 WIB

 

Semula hanyalah pertemuan yang dipenuhi oleh pikiran mengenai adanya tradisi yang mulai hilang. Tradisi itu adalah seduh teh. Tradisi ini kemudian dibangkitkan kembali oleh sejumlah orang di Medan. Belakangan, tradisi ini bukan hanya menjadi usaha komersial, tetapi juga simbol keterbukaan etnis Tionghoa Medan yang selama ini terstigma sebagai komunitas tertutup.

”Awalnya kami berkumpul dengan sesama penggemar teh. Pertemuan itu digunakan untuk menjalin hubungan dan lebih banyak untuk mengisi hari tua,” kata Endar Hadi Purwanto, pendiri dan juga pengurus Medan Tea Club (MTC). Komunitas ini berdiri pada Juni 1999.

Dari pertemuan itu, mereka mengetahui ada tradisi yang hilang dalam kebiasaan minum teh yang dibawa oleh orang Tionghoa ke Nusantara. Mereka akhirnya mencari sejumlah tetua yang masih mengingat cara menyeduh teh. Mereka juga mencari ahli dari berbagai negara yang paham mengenai tradisi seduh teh itu.

Dari berbagai kisah dan juga pengetahuan yang disampaikan itu, mereka akhirnya menemukan kembali dan memahami tradisi seduh teh. Seduh teh adalah hal yang sederhana, namun tak dipahami oleh banyak orang.

”Pengolahan teh yang baik akan memengaruhi harga, rasa, dan aroma. Akan tetapi, penyeduhan yang benar akan memengaruhi khasiat dan kualitas tes,” kata Endar beralasan soal pentingnya penyeduhan teh.

Endar memperlihatkan salah satu cara seduh teh yang benar. Sebelum diseduh, sebaiknya perlengkapan minum seperti gelas dan poci dicuci dengan air hangat agar bersih. Selanjutnya, daun teh yang akan diseduh dicuci dengan air hangat. Untuk menghilangkan bau tak sedap yang hinggap di daun teh, pencucian dilakukan tiga kali. Kemudian masukkan teh ke dalam poci. Air tidak perlu terlalu banyak sebab hal itu akan menghilangkan khasiat teh.

Selanjutnya seduhlah teh dengan air panas bersuhu 80-90 derajat Celcius selama 40-50 detik. Tuang airnya ke dalam cangkir, lalu minumlah teh selagi hangat. Sebagai tambahan, jangan biarkan sisa teh yang telah diseduh terendam dalam air karena itu bisa menyebabkan teh menjadi basi. Jika dibiarkan tanpa air, teh sebenarnya masih bisa diseduh ulang hingga beberapa kali.

Tradisi ini sudah lama ada di negeri China. Tradisi ini dibawa ke Nusantara oleh orang-orang China ketika bermigrasi ke Nusantara. Akan tetapi, perubahan generasi menyebabkan tradisi ini nyaris hilang, bahkan di kalangan orang Tionghoa sendiri. Generasi muda Tionghoa banyak yang tidak paham mengenai tradisi ini.

Bila sekarang Endar melestarikan tradisi seduh teh, itu tidak berarti ia berasal dari orang-orang yang paham soal teh. Orangtuanya sama sekali tidak terkait dengan bisnis teh. Endar sendiri juga tidak berlatar belakang penggemar teh. Ia malang melintang di dunia yang tak terkait dengan teh, seperti fotografi, farmasi, dan percetakan. Kecintaan terhadap teh mendorongnya tetap melestarikan kebiasaan ini.

Dari semula yang hanya digunakan untuk mempertemukan para pencinta teh di kalangan orang Tionghoa, tahun lalu Endar kemudian merintis berdirinya kedai Ho Teh Tiam di Jalan Monginsidi 32, Medan.

Kedai ini juga menjadi sarana menyosialisasikan tradisi seduh teh. Tempat ini juga digunakan untuk mengajak mereka yang ingin belajar mengenai tradisi seduh teh. Dengan kedai itu, semua orang dari berbagai golongan dipersilakan mengenal tradisi seduh teh yang benar sambil berkumpul. Orang awam yang ingin mengetahui tradisi seduh akan diajari langsung oleh Endar.

”Ndak ada yang rugi dalam hal ini. Kalau saya mempunyai sesuatu yang baik kalau digunakan untuk sesama, itu namanya ibadah,” kata Endar ketika ditanya soal kesetiaan dia mengajari para tamu di kedainya yang bagi orang lain mungkin terlihat melelahkan. Setiap tamu yang tidak paham cara menyeduh teh dengan benar dilayaninya satu per satu.

Bersamaan dengan pembukaan kedai itu, MTC membuka diri bagi semua orang yang berminat mempelajari tradisi seduh teh. Dalam setahun, orang-orang dari berbagai kalangan telah ikut menjadi anggota MTC. MTC tidak lagi eksklusif, tetapi telah terbuka untuk semua orang. Dalam sebuah kompetisi menyeduh teh, pemenangnya malah bukan berasal dari etnis Tionghoa.

Di samping memperkenalkan tradisi seduh teh, ia ingin membumikan tradisi minum teh, termasuk bahan-bahan yang diharapkan dari dalam negeri sehingga bisa memberdayakan petani di dalam negeri.

Soal bahan teh yang selama ini masih diimpor, Endar mengatakan, masalahnya teh terbaik di Indonesia lebih banyak dikirim ke luar negeri. Bila kelak teh terbaik Indonesia dipasarkan di dalam negeri, maka teh Indonesia akan digunakan untuk memperkaya tradisi seduh teh.

Ia juga ingin agar tradisi minum teh di Indonesia yang sudah ada sejak lama bisa berkembang. Perkembangan ini ditandai dengan munculnya tradisi minum teh yang khas di setiap daerah berikut dengan bahan-bahannya yang spesifik ada di daerah tersebut. Dari hal ini, Endar bercita-cita suatu saat Indonesia dikenal di kalangan internasional dengan tradisi minum teh yang beraneka macam.

Bukan itu saja, dari secangkir teh ia ingin memperlihatkan keterbukaan etnis Tionghoa di Medan yang selama ini dinilai cenderung tertutup. Keterbukaan ini makin nyata setelah sebelumnya dipelopori oleh beberapa orang di dalam gerakan pemberdayaan masyarakat, politik, dan juga kesenian.

”Kita lahir di tanah ini. Dari cari makan sampai nanti dikubur juga di tanah ini. Saatnya kita menunjukkan bahwa kita memiliki Indonesia,” kata Endar mengungkapkan fenomena keterbukaan kalangan etnis Tionghoa di Medan.

Keterbukaan yang dimaksud adalah memperkenalkan kebudayaan yang dianggap baik sehingga orang lain juga bisa merasakan dan memanfaatkannya. Dalam hal ini ia melihat tata cara menyeduh teh merupakan tradisi yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk meningkatkan kesehatan selain juga untuk sosialisasi.

”Kekayaan tradisi ini kalau kita simpan buat diri kita sendiri, apa manfaatnya? Orang lain perlu mengetahui tradisi ini karena menurut saya ada tradisi yang baik yang perlu dicontoh,” katanya. Ia yakin manfaat tradisi seduh teh karena menurut penelitian diketahui kandungan di dalam teh bisa mencegah kanker, menormalkan tekanan darah, hingga antioksidan.

Endar mengatakan, sejauh ini masyarakat antusias dengan tradisi seduh teh itu. Anggota MTC yang semula 40 orang kini telah menjadi sekitar 100 orang. Mereka ingin mengetahui cara dan manfaat menyeduh teh. Kedai yang didirikannya itu merupakan tempat bertanya mengenai hal ini. Secangkir teh telah menjadi sarana untuk membuka diri sebuah etnis. (ANDREAS MARYOTO)

 

Our Facebook

fblogo

Cara seduh praktis

Nikmati Teh berkualitas Hasil Seduhan Sendiri, para penikmat teh tentunya akan tergerak untuk mengetahui lebih banyak cara seduh teh yang benar. read more..

Contact us

Address: Mongonsidi 32
Medan 20152 Indonesia
Tel: +614513112
Email:hotehtiam@live.com
Website: www.hotehtiam.com